This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

17/06/22

Selamat Hari Bahagia, Bapak!

Bapak, selamat hari bahagia! Semoga segala sesuatu yang kamu kerjakan, dilancarkan sampai akhir. Aamiin. Sehat selalu, bapak!

Bapak, maaf aku banyak kurangnya. Maaf selama ini aku selalu nyusahin, dan ngeganggu. Aku udah janji sama diri aku sendiri, aku bakal berjuang sendirian sampai akhir. Meski aku bener-bener kangen sama kamu, aku bakal tahan rasa ini sampe nanti kamu yang sadar kalo aku gak akan tinggal lama di sini. Bapak, aku ngga tahu lagi harus cerita sama siapa lagi. Kesusahan aku, rasa panik aku, kegelisahan aku, dan segala sesuatunya yang bikin aku cape dan ngerasa bener-bener cape banget. 

Aku sekarang mulai ngebatasin diri aku sama kamu. Ngga lagi nelfon kamu malem-malem meski aku lagi ngerasain sedih, ngga akan lagi ngespam chat ke kamu karena kamu ngga pernah bales chat aku. Aku udah bener-bener ngerasa sepasrah itu. Kalopun bukan kamu orang yang bisa ada di samping aku terus, aku juga ikhlas. Sekarang, aku cuma bisa ngejadiin diri aku sendiri sebagai benteng. Aku udah gamau ngerepotin kamu lagi, ngerepotin siapapun dan ngebikin kamu khawatir lagi.

Bapak, aku bener-bener mau ketemu, mau peluk, mau bilang "Aku butuh kamu, aku kangen. Aku gabisa hidup tanpa kamu."

Maaf, emang aku ngga bisa jadi cewe yang kamu mau. Bahkan mungkin, aku bukan cewe yang kamu mau, maaf. 

Bapak, aku udah ngga akan lagi maksa kamu buat nepatin janji, yang gapernah kamu tepati. Aku masih inget jelas segimana seringnya aku dikhianati. Mungkin kemaren, udah kali ke berapa kamu ngga nepatin janji kamu. Aku udah ikhlas. Lagi pula, aku bersyukur kamu udah nyiptain jarak ini. Aku gapernah tau gimana keadaan aku nanti. Masih sama kaya sekarang yang sehat bugar, atau nanti aku cuma jadi perempuan lemah yang hidup dalam pembaringan dan akhirnya mati. 

Bapak, aku bahkan nggamau mengulang kesalahan yang sama lagi. Aku bener-bener udah pasrah nyerahin semuanya sama takdir yang bakal terjadi antara aku sama kamu. 

Bapak, tau ngga kalo sebenernya aku bener-bener masih suka apapun yang ada sama kamu. Katanya, jangan suka sama yang zodiaknya gemini. Nanti pasti selalu disakitin, buaya, suka flirting sana-sini. Entah kenapa, kalau itu kamu mau apapun zodiaknya aku gapernah percaya sama yang begituan, dan aku selalu suka kamu. Aku gapernah bisa benci sama kamu, meski berkali-kali kamu selalu nyakitin aku. Tapi aku tau, kamu ngelakuin itu karena kamu pengen aku ngga terlalu mengandalkan kamu terus. Biar aku bisa mandiri, dan bisa ngejaga diri aku sendiri.

Bapak, selalu jaga kesehatan ya... Jangan terlalu ambis nyari uang cuma buat duniawi yang fana sampe lupa sama badan sendiri. Kamu cerita kalo kamu rela selama 2 harian motoran hujan-hujanan karena mau beli lepi. Aku salut banget sama kamu, ngga pernah cerita apa-apa ke siapapun. Sedangkan aku yang baru segini aja, udah sering ngeluh ke kamu.

Bapak, aku selalu berdoa biar kamu selalu banyak rezekinya. Terus biar kamu selalu bisa beli apapun yang kamu mau tanpa ngeliat lagi label harganya. Bapak sehat terus yaa... ILYA.

30/01/22

Tetaplah Hidup, Katanya

 Aku sakit. Amat sakit sekali.

Berkali-kali aku mencoba memutuskan untuk pergi, selamanya. Rasanya baru saja kemarin. Aku hancur-sehancurnya. Entah apa yang ada di pikiranku, aku hanya ingin pulang.

Tetapi, tetaplah hidup katanya. Meski yang aku rasakan hanya kesepian, kesendirian, kecemasan yang berulang-ulang dan rasa lelah yang tidak kunjung berkesudahan.

Egois bukan? Tetaplah hidup, katanya. Meski dirinya sendiri tidak pernah menemani kala aku merasakan fase depresi ku di setiap kalinya.

Egois bukan? Tetaplah hidup, katanya. Meski aku yang merasakan kehadiranku tidak lagi berharga untuk siapapun.

Egois bukan? Tetaplah hidup, katanya. Meski aku yang merasakan menjadi bukan siapa-siapa di dunia, bukan apa-apa di dunia ini.

Aku hanya ingin mengakhiri, rasa sakit yang teramat. Aku hanya ingin mengakhiri, rasa rindu yang tidak lagi bisa tersampaikan. Aku hanya ingin mengakhiri apapun tentang dunia ini.

Aku tidak lagi melakukan apapun kecuali mengurung diri, menyakiti diri sendiri, menangis sampai mata tidak lagi cantik. Aku hanya menyiksa diriku perlahan-lahan. Aku hanya membenci diriku yang bagaikan sampah, tidak lagi berguna, tidak lagi terhormat, tidak lagi dihargai.

Aku hanya ingin mengakhiri semuanya. Cukup... Aku lelah. Aku letih. Bagaimanapun aku mengatakan kondisiku, tidak lagi ada peduli. Mereka hanya lelah akan semua ocehanku, mereka hanya sibuk dengan urusan mereka sendiri. Akupun begitu. Aku sibuk dengan segala isi pikiranku.

Aku tidak akan lagi hidup. Aku tidak peduli kata siapa pun, aku hanya tidak lagi percaya pada siapapun. Aku hanya ingin mengakhirinya segera.

Maaf... Maaf... Maaf...

Aku berterima kasih kepada seluruh keluargaku yg aku repotkan, aku berterima kasih kepada teman-teman ku yg berkata aku bodoh, iya sangat bodoh. Terima kasih...

Maaf, aku amat sangat mencintai kalian semua. Hanya saja aku merasa tidak lagi semuanya adil. Aku hanya ingin pulang.