30/01/22

Tetaplah Hidup, Katanya

 Aku sakit. Amat sakit sekali.

Berkali-kali aku mencoba memutuskan untuk pergi, selamanya. Rasanya baru saja kemarin. Aku hancur-sehancurnya. Entah apa yang ada di pikiranku, aku hanya ingin pulang.

Tetapi, tetaplah hidup katanya. Meski yang aku rasakan hanya kesepian, kesendirian, kecemasan yang berulang-ulang dan rasa lelah yang tidak kunjung berkesudahan.

Egois bukan? Tetaplah hidup, katanya. Meski dirinya sendiri tidak pernah menemani kala aku merasakan fase depresi ku di setiap kalinya.

Egois bukan? Tetaplah hidup, katanya. Meski aku yang merasakan kehadiranku tidak lagi berharga untuk siapapun.

Egois bukan? Tetaplah hidup, katanya. Meski aku yang merasakan menjadi bukan siapa-siapa di dunia, bukan apa-apa di dunia ini.

Aku hanya ingin mengakhiri, rasa sakit yang teramat. Aku hanya ingin mengakhiri, rasa rindu yang tidak lagi bisa tersampaikan. Aku hanya ingin mengakhiri apapun tentang dunia ini.

Aku tidak lagi melakukan apapun kecuali mengurung diri, menyakiti diri sendiri, menangis sampai mata tidak lagi cantik. Aku hanya menyiksa diriku perlahan-lahan. Aku hanya membenci diriku yang bagaikan sampah, tidak lagi berguna, tidak lagi terhormat, tidak lagi dihargai.

Aku hanya ingin mengakhiri semuanya. Cukup... Aku lelah. Aku letih. Bagaimanapun aku mengatakan kondisiku, tidak lagi ada peduli. Mereka hanya lelah akan semua ocehanku, mereka hanya sibuk dengan urusan mereka sendiri. Akupun begitu. Aku sibuk dengan segala isi pikiranku.

Aku tidak akan lagi hidup. Aku tidak peduli kata siapa pun, aku hanya tidak lagi percaya pada siapapun. Aku hanya ingin mengakhirinya segera.

Maaf... Maaf... Maaf...

Aku berterima kasih kepada seluruh keluargaku yg aku repotkan, aku berterima kasih kepada teman-teman ku yg berkata aku bodoh, iya sangat bodoh. Terima kasih...

Maaf, aku amat sangat mencintai kalian semua. Hanya saja aku merasa tidak lagi semuanya adil. Aku hanya ingin pulang.

0 komentar:

Posting Komentar