07/09/19

Pertemuan

Pertemuan pertama antara aku dan dirimu dimulai dengan hal-hal yang sangat menyebalkan. Waktu itu aku selalu jadi bahan bercandaan dirimu. Rasanya saat itu juga aku ingin pindah planet saja. Aku mulai menyukaimu saat pertama kali aku berjumpa denganmu. Tidak, bukan perjumpaan seperti dalam drama sinetron yang sangat menyenangkan dan mungkin bikin baper. Perjumpaan yang hanya tau namamu, dan rasanya bagiku nama itu seperti nama seorang perempuan yang nyatanya kau adalah laki-laki. Saat itu aku mulai suka mencuri pandang darimu. Tapi mungkin tak pernah diketahui olehmu.

Aku juga mulai mencuri-curi dengar tentangmu dari orang-orang yang sudah dekat denganmu dari dulu. Rasanya ada banyak hal yang aku tahu darimu. Mulai dari hal yang menyenangkan sampai pada hal yang menurutku itu sangat menyebalkan membuatku cemburu. Ah, sungguh aku tak ingin menceritakan ini di sini rasanya. 




Kau adalah lelaki yang menurutku sangat sederhana, tapi kau selalu menunjukkan hal-hal yang tidak bisa diduga. Sebelumnya jika aku bertemu dengan seseorang, pasti aku akan tau terlebih dahulu bagaimana orang tersebut. Nyatanya aku tak bisa membaca itu dari dirimu. Kau lelaki yang penuh kejutan serta banyak hal yang terlihat kau sembunyikan. Memang kau itu lelakiku yang unik. Hah? bahkan aku sudah berani menyebutmu sebagai lelakiku. Jangan hakimi aku, tolong.

Perbincangan denganmu yang pertama kali adalah tentang basa-basi yang menurutku kau terlalu berani mendekatiku. Saat lelaki lain tak berani mendekatiku karena aku adalah perempuan introvert yang tak akan menggubris apapun yang lelaki bicarakan kepadaku. Tapi ini sulit, aku menyukaimu dan kau mendekat padaku. Aku butuh waktu untuk mencerna ini semua. 

Ejekan-ejekan yang kau keluarkan tiap hari padaku, rasanya selalu menjadi hal yang paling membekas dihatiku hingga pada saat ini. Namun anehnya, hal itu tak sedikitpun membuatku sakit hati. Rasanya aku hanya terbiasa dengan apa yang selalu lelaki katakan padaku. Banyak hal yang kau ucapkan sampai didetik aku berani juga didekati olehmu. Tak segan aku untuk banyak bercerita padamu dan kau selalu bersedia untuk mendengarkan semua keluh-kesahku padamu. Aku tak mengerti itu semua.

Hingga saat ini kau masih menjadi bagian dari hidupku. Memandangmu dari jauh, mendoakan dirimu dalam setiap doaku, hingga menemaniku mengisi hari-hariku. Terimakasih, semoga kisah kita berlanjut sampai tua. Aamiin.

2 komentar: